Anyeong…. kawan
sesama penulis yang (ngerasa) masih amatir. Nihh tulisan pertamaku. Kalau bukan
gara – gara bu Heni kasih tugas bikin cerpen aku gak bakalan nulis nihh. Ya udah
ga usah panjang panjang pengantarnya.. silahkan di baca..
HOT CHOCOLATE
Tak seperti biasanya jalan begitu
padat sore itu. Bunyi tlakson saling bersahutan antara keramaian. Terlihat
beberapa pedagang asongan yang berseliweran menawarkan daganganya. Tiba – tiba
seorang paruh baya menyodorkan minuman mineral di hadapan Fara.
“Far..?? Mau beli minum gak?” Fara
yang terhanyut dalam lamunannya sontak terkaget mendengar suara tersebut. Suara
laki - laki yang sering ia dengar dua tahun ini. Suara yang selalu membuat Fara tenang.
“Maaf pak, saya gak beli.” Fara
menggelengkan kepala kepada pedagang asongan.
Suasana
kembali hening diantara mereka. Laki – laki itu kembali fokus menerobos
padatnya keramaian dengan motor putih kesayangannya itu. Dan Fara kembali
hanyut dalam lamunannya, mengingat apa yang terjadi siang tadi. Kejadian yang
sama sekali tidak ia bayangkan selama ini. Bahkan sejak pertemuan tak terduga
denganya dua tahun lalu di sebuah festival.
* * *
Fara
setengah berlari menuju spot yang berhias pernak - pernik berwarna hijau. Fara
merupakan penggemar fanatik dari keroppi, karakter berwarna hijau itu. Ia
sedang berburu koleksi keroppi terbarunnya di festival HUT kota Bandung yang jatuh pada hari
itu, 25 September 2011.
“Aduh…” Seseorang mendorong Fara hingga
terjatuh. Saat Fara berdiri ia terkejut dengan sosok laki – laki yang sedang bingung menatap bajunya.
“Ma..ma..maaf..”
Ternyata minuman yang Fara beli tadi, melayang begitu saja ke baju seseorang.
“Aduh..maaf..maaf..aku
gak sengaja.” Fara mengambil tissue dari dalam tasnya. Laki - laki itu
masih bingung dan kemudian membersihkan bajunya dengan tissue yang diberikan
Fara. Tetap saja noda coklat
masih membekas pada baju putih itu.
“Aduh..gak bisa bersih ya?” ucap Fara
setengah berfikir.
“Gimana kalau sekarang aku beliin baju aja,
nanti baju kamu itu biar aku yang masukin ke laundry.”
Setelah beberapa stel baju yang Fara pilih, akhirnya
ia memutuskan untuk membeli baju berwarna abu – abu dengan aksen simpel di bagian
bawah. Dan laki – laki itu setuju dengan baju pilihan Fara.
“Makasih ya!” ucap laki – laki itu.
“Ahh..gak apa apa.” Jawab Fara sambil
memasukan baju kotor kedalam tasnya. “Harusnya
aku yang bilang makasih. Soalnya kamu gak marah, gara – gara coklat panas ku
melayang ke baju kamu.”
Laki
– laki itu tersenyum simpul. “Gimana
kalau gantian aku yang traktir kamu makan.”
Fara tersenyum kegirangan, perutnya yang sudah meronta – ronta kelaparan
karena belum makan sejak pagi, tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. “Setuju…!! Gimana kalau kita makan di situ”
Fara menunjuk kedai makanan Italia.
* * *
Setelah
lima belas menit menunggu, dua porsi spagetti
dan dua gelas moccacino meluncur di
hadapan mereka. Fara yang sedang kelaparan langsung
memakan spagettinya.
“Hahaha..pelan
– pelan aja dong makannya, kalau sampe keselek garpu tau rasa tuh.” Goda laki – laki itu.
Fara
meringis mendengarnya “Gak cuma garpu
yang tertelen kali, bisa – bisa piringnya juga ngikut. hahaha.” Gerutu
Fara.
“By
the way, ngapain kamu ke tempat kayak gini? Sendirian pula?” Tanya laki – laki itu sambil meminum moccachinonya.
“Kamu juga sendirian.” Jawab Fara yang
sedang memainkan sedotan minumannya. “Sebenarnya aku ke sini mau cari pernak –
pernik keroppi yang terbaru buat nambah koleksi ku..hehe.” Laki – laki itu
menatap aneh kepada Fara.
“Pantesan
aja.” Laki – laki itu kembali menatap Fara, ia melihat apa yang Fara
pakai dari ujung kepala sampai ujung kaki,semua bernuansa karakter berwarna
hijau itu.
“Agak aneh sih menurut ku, hehe.” Lanjut
laki – laki itu.
Fara menatap tajam kepada laki – laki itu dan
kemudian tertawa. “Hahaha. Iya sih agak
aneh.” Fara sengaja memakai baju dan yang lainya serba keroppi. Karena ia
sedang berburu koleksi keroppi terbaru jadi dia memakai pakaian yang bertema sama.
Tiba
– tiba Fara menggebrak meja sehingga semua orang di tempat itu menatap mereka.
“Maaf atas kehebohanku.” Fara tertawa
sebelum melanjutkan perkataanya. “Ngomong – ngomong kamu itu siapa? Kita
udah ngobrol panjang lebar gini, masa belum tau satu sama lain.”
Laki – laki itu mengulurkan tangananya. “Ohh..ya, kenalin, namaku Rafa.” Fara
kembali menyambut uluran tangan Rafa. “Ehmm..aku
Fara.”
Rafa
kembali meminum moccachinonya. “Lucu juga
ya, kita bisa ketemu di tempat kayak gini, pakai coklat panas di bajuku lagi,
terus nama kamu Fara nama ku Rafa..Fara..Rafa..Farafa..Rafara..”
Fara
kemudian meminta nomor Rafa, agar ia bisa menghubungi Rafa ketika bajunya sudah
selesai dicuci. Fara menyodorkan ponselnya agar Rafa bisa menuliskan nomornya.
‘Coklat Panas’. Fara menuliskan sebutan
itu pada nomor Rafa. Ia sengaja menuliskan sebutan itu karena insiden coklat
panas yang melayang di baju Rafa membuat mereka saling mengenal bahkan bisa
akrab dalam waktu sehari.
Fara
dan Rafa kembali terhanyut dalam obrolan mereka. Tiba – tiba ponsel Fara
berbunyi. Sepertinya ada sebuah telepon yang masuk. Fara hanya menghela nafas,
sepertinya akan ada bencana besar jika ia mengangkat telepon itu. Dengan enggan
ia mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Halo?”
“Halo, Far, kamu di mana aja sih? Aku udah
lumutan nunggu kamu di sini tau.” Fara segera menjauhkan handphone itu jauh
– jauh dari telinganya. Sepertinya hal ini yang biasa ia lakukan ketika
mendengar omelan dari sahabatnya itu.
“Kenapa sms ku gak dibales – bales sih. Udah
sampe satu jam aku nunggu kamu di sini. Ya udah dalam sepuluh menit kamu harus
nyampe di sini. Oke!!” Sebelum Fara menjawab, telepon itu sudah di tutup.
Fara hanya menggerutu karena kelakuan sahabatnya itu.
“Kenapa Far?” Tanya Rafa penuh
penasaran.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang.”
Jawab Fara sambil membayangkan bencana yang akan ia timpa apabila ia sampai
terlambat menemui Cacha, sahabatnya itu.
“Kalau gitu, biar ku antar ya?” Pinta
Rafa.
Fara
hanya mengangguk pasrah. Sebenarnya ia merasa tidak enak kepada Rafa. Namun tidak
ada pilihan lain selain Rafa. Apabila ia naik taksi atau yang lainya pasti ia
tidak selamat dengan bencana yang dibuat Cacha. Karena Rafa menggunakan motor,
mereka bisa menerobos kemacetan dan bisa sampai tepat waktu. Rafa pun segera
mengambil kunci motornya dan segera beranjak dari duduknya menuju ke parkiran.
Dengan
mengebut Rafa mengendarai motornya,
akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju tepat waktu. Terlihat
Cacha yang terlihat bosan sedang menunggu di depan sebuah café. Fara langsung
berlari menemui Cacha. Setelah mendapati mereka masuk ketempat itu, Rafa langsung
tancap gas meninggalkan Fara di sana.
* * *
Bel berbunyi,
tanda pelajaran hari ini telah usai. Fara dan Cacha bergegas berjalan keluar
kelas. Tiba – tiba ponsel Fara berbunyi.
Ia pun segera mengambilnya dari saku bajunya. ‘Coklat Panas’. Terlihat sebuah
pesan dari Rafa di layar ponselnya.
‘Far udah pulang belum. Aku tunggu di depan
sekolah kamu ya!’
Sontak Fara kaget dengan pesan itu. Ia merasa aneh
dengan hatinya yang berdetak kencang. Segelintir pertanyaan memenuhi kepalanya.
Bagaimana dia bisa tau di mana sekolahku?
Kenapa dia mengirim pesan ini? Ia pun berpamitan kepada Cacha untuk pulang
duluan.
Fara sangat terkejut ketika ia menjumpai seorang anak
SMA yang sedang duduk di samping motor putihnya. Seseorang yang ia temui
kemarin di festival. Seseorang yang bajunya ia tumpahi coklat panas.
“Hai putri kodok.” Rafa berjalan
menghampiri Fara dan tersenyum padanya.
Rafa
segera menarik Fara menuju motornya. Fara hanya menurut dan naik ke atas motor
Rafa. Mereka meluncur menuju sebuah café Italia. Saat ini mereka memesan dua
porsi ravioli dan dua gelas coklat
panas.
“Wahh..kamu hebat ya Raf, tau aja deh selera
aku apa. Masakan Italia dan coklat panas. Jempol buat kamu dehh.” Ucap Fara
sambil megangkat kedua jempolnya kepada Rafa.
“Haha..iya dong. Aku gitu.” Pamer Rafa
sambil mengernyitkan kedua alisnya ke atas.
“Kamu kok bisa tau sekolah ku di mana?”
tanya Fara sambil memasukan ravioli ke mulutnya.
“Dari seragam yang di pake temen kamu itu.”
Jawab Rafa.
Semua
orang pasti tahu seragam putih dengan rok beraksen kotak – kotak besar berwarna
merah hati itu adalah seragam milik siswi - siswi SMA Kartini. Nama SMA favorit
khusus wanita itu sudah terkenal di kota kembang ini.
“Cacha maksud kamu?” Jawab Fara
meyakinkan.
“Oh iya. Ini punya kamu kan?.” Lanjut
Fara seraya mengeluarkan baju berwarna putih dari tasnya. Tak nampak lagi noda coklat
yang menempel pada baju itu.
“Sebenarnya aku mau nyimpen baju yang masih
ada coklatnya itu. Buat kenang – kenangan.” Jawab Rafa yang sedari tadi
menatap Fara.
Fara
tercenan mendengar jawaban Rafa itu. Raut mukanya seketika berubah. Ia tak
mengerti maksud dari kata – kata itu. Kenang – kenangan. Apa yang akan ia kenang? Baju? Mungkin kah aku? Pertanyaan konyol
itu berseliweran di kepala Fara. Rafa yang melihat perubahan raut wajah Fara
melanjutkan perkataanya.
“Haha..aku hanya ingin mengingat
betapa konyolnya aku waktu itu.” Fara menghela nafas lega mendengarnya.
Setelah
selesai makan Rafa mengantar Fara pulang. Sejak saat itu mereka sering bertemu.
Tak jarang setiap malam minggu mereka menonton film bersama di bioskop. Bahkan
setiap berangkat dan pulang sekolah Rafa selalu mengantar Fara.
* * *
Pagi
itu matahari bersinar cerah, langit begitu biru tak ada satupun awan yang
terlihat. Tempat itu sudah di penuhi oleh orang – orang yang berolah raga atau
sekedar menghabiskan waktu pagi di luar rumah. Sudah beberapa kali Fara dan
Cacha bolak – balik menelusuri jalan Dago itu. Setiap hari minggu mereka
berlari pagi bersama di kawasan Car Free
Day itu.
“Far… aku udah capek nih, istirahat dulu
ya.” Keluh Cacha yang terengah – engah di belakang Fara.
Fara mendongak ke belakang mendapati sepeda yang
melaju akan menabrak Cacha. Buru – buru ia menariknya. Fara memandangi
pengendara sepeda tadi. Sepertinya ia mengenalinya. Sepeda tadi berbalik
menemui mereka.
“Maaf, aku gak se...” Kalimat itu tiba –
tiba terpotong.
“Rafa!!” Seru Fara.
“Hai, putri kodok.” Sapa Rafa
“Kenalin Raf, ini Cacha.” Kata Fara mengenalakan sahabatnya itu.
Seketika
mereka bertiga langsung hanyut dalam obrolan mereka. Hingga mereka sadar satu
per satu orang – orang meninggalkan kawasan Car
Free Day itu. Jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih empat puluh lima
menit. Berarti lima belas menit lagi Car
Free Day sudah usai.
“Aku pulang duluan ya, besok malam aku tunggu kalian berdua jam tujuh ya.” Ucap
Rafa sebelum meninggalkan mereka berdua.
* * *
Sebuah
mobil jazz merah parkir tepat di
depan rumah Fara. Tampaknya Cacha sudah ada di sana sejak sore tadi. Ia sengaja
datang ke rumah Fara lebih awal agar terhindar macet. Tampak dua gadis yang
keluar dari rumah Fara menuju ke mobil jazz
itu. Tak lama kemudian mobil itu melaju menuju sebuah café.
Setelah
sepuluh menit perjalanan, mereka sampai di tempat tujuan. Cacha segera
memarkirkan mobilnya. Mereka pun masuk ke dalam café yang di dominasi warna pink
itu. Warna yang menggambarkan suasana saat itu, yaitu suasana valentine.
“Hei.. lama nunggu ya.” Sapa Fara kepada
lelaki yang memakai kemeja biru marun itu. Wajahnya begitu mempesona di bawah
lampu yang menerangi tempat itu.
Sejenak
obrolan mereka terhenti saat makanan yang mereka pesan datang. Obrolan meraka
kembali mengalir dengan hangat, sampai sebuah pertanyaan yang dilontarkan Cacha
membuat Fara beku.
“Kalian berdua pacaran ya?”
“Enggak!” bantah Fara yang salah
tingkah. Pipinya yang chubby seketika memerah. Perasaan aneh tiba – tiba
menyelimuti hatinya. Ia melirik ke arah Rafa yang sempat terkejut, hanya
tersenyum simpul menanggapi pertanyaan itu.
“Berarti masih ada harapan buatku dong.” Ucap
Cacha lirih sampai tak terdengar oleh
siapapun.
* * *
Dalam
perjalanan pulang, mobil Cacha terasa sepi. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan
masing – masing. Fara sibuk memainkan game di ponselnya dan Cacha sibuk
menyetir mobilnya.
“Far.. kayaknya aku suka sama Rafa.”
Ungkap Cacha membuat Fara menjatuhkan ponselnya.
Fara
menatap tajam sahabatnya itu. Perasaan aneh kembali menyelimuti hatinya.
Perasaan yang sama saat Cacha melontarkan pertanyaan di café tadi. Kata –
katanya saat ini membuat hati Fara terasa sesak dan membuat ia sadar akan
perasaanya selama ini. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata.
Perasaan yang sudah lama ada sejak ia menupahkan coklat panasnya di festival
dulu. Perasaan yang dalam kepada laki – laki itu. Laki - laki yang juga di
sukai oleh sahabatnya sendiri, sahabat terbaiknya.
* * *
Akhir
tahun adalah hal yang di tunggu – tunggu oleh semua siswi di SMA Kartini. Seperti
tahun – tahun sebelumnya acara yang di selenggarakan sebelum libur akhir
semester itu selalu ramai dipenuhi orang – orang. Tak hanya murid SMA Kartini
yang semuanya adalah perempuan itu, melainkan semua orang boleh ikut meramaikan
acara tersebut.
Tampak
Fara yang sedang membonceng di belakang Rafa memasuki area sekolah. Segera
diparkirkan motornya. Cacha yang memakai ID card bertuliskan panitia sedang
menunggi Fara tak jauh dari parkiran.
“Maaf ya Far, aku gak bisa jemput. Soalnya
di sini sibuk banget.” Ucap Cacha
yang segera menggandeng Fara.
“Iya, gak apa – apa. Aku juga gak minta kamu
jemput aku kan.” Jawab Fara dingin. Sejak pengakuan Cacha malam itu, ia
bertingkah dingin kepada Cacha. Sebenarnya ia tidak menginginkan itu, namun ada
perasaan yang membuat Fara bertingkah seperti itu.
“Oh ya, makasih ya Raf udah jemput Fara.
Tetep nonton acaranya ya, tengah hari nanti aku mau nyanyi.” Cacha berlalu
meninggalkan mereka berdua.
Semakin
siang, acara itu semakin seru. Terlihat Cacha yang menaiki panggung, seperti
katanya tadi, ia akan bernyanyi tepat tengah hari. Karena hari itu begitu
terik, Fara meningalkan Rafa membeli minuman untuk mereka berdua. Terdengar
suara Cacha dari kejauhan.
“Siang semua, kali ini aku akan menyanyikan
sebuah lagu untuk seseorang yang sedang berdiri disana” Cacha menunjuk
seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari panggung.
Berdiriku
di sini hanya untukmu
Dan
yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam
hati kecilku inginkan kamu
Berharap
untuk dapat bersamamu
Fara
mendengarkan baik – baik lirik yang dinyanyikan Cacha. Lirik lagu yang sering
dinyanyikan band Geisha itu berjudul ‘Pilihan Hati’. Terlintas di benaknya. Untuk siapa lagu di tujukan? Tak seperti
biasanya Cacha bertindak seberani itu.
“Lagu ini buat kamu, Raf. I Love You, Rafa.”
Ucap Cacha di akhir lagunya.
Dua
gelas cocho shake yang dibawa Fara sontak terjatuh. Pertanyaannya
yang tadi terlintas di benaknya terjawab sudah. Lagu itu untuk Rafa. Tubuh Fara
lemas seketika menyadari kata - kata Cacha di akhir lagu tadi yang merupakan
pernyataan cintanya kepada Rafa. Dan Fara tambah terkejut mendapati Rafa yang
akan menaiki pangung.
Tanpa
berfikir panjang, Fara berlari meninggalkan tempat itu. Ia berlari ke tempat di
mana tidak ada seorangpun di sana. Ia menutupi telinganya agar ia tidak
mendengar suara Cacha dan Rafa yang masih terdengar samar – samar. Dan ia
menangis meluapkan perasaanya yang tidak menentu di sana.
Hari
sudah semakin sore, acara itu sudah berakhir. Fara yang masih berada di tempat
itu beranjak dari duduknya akan pulang. Cacha dan Rafa yang sedari tadi sibuk
mencari Fara akhirnya menemukanya di depan gerbang.
“Far, kamu ke mana aja sih? “ Ucap Cacha
khawatir. “Aku antar pulang ya.”
Fara
hanya mengeleng mendengar ajakan Cacha.
“Bagaimanapun aku tadi yang menjemput kamu
kan. Jadi kamu harus mau kalau aku antar pulang.” Ucap Rafa memakasa. Ia
segera menariknya ke parkiran dan memakaikan helm untuknya. Fara hanya menurut
saat Rafa menyuruhnya naik ke atas motor.
* * *
Tak
seperti biasanya jalan begitu padat sore itu. Bunyi tlakson saling bersahutan
antara kendaraan – kendaraan itu. Terlihat beberapa pedagang asongan yang
berseliweran menawarkan daganganya. Tiba – tiba seorang paruh baya menyodorkan
minuman mineral di hadapan Fara.
“Far..?? Mau beli minum gak?” Fara
yang terhanyut dalam lamunannya sontak terkaget mendengar tawaran Rafa.
“Maaf pak, saya gak beli.” Fara
menggelengkan kepala kepada pedagang asongan.
Suasana
kembali hening diantara mereka. Rafa kembali fokus menerobos padatnya keramaian
dengan motor putih kesayangannya itu. Fara kembali hanyut dalam lamunannya,
mengingat apa yang terjadi siang tadi. Segelintir pertanyaan melintas di
benaknya. Apakah yang terjadi tadi di
antara Rafa dan Cacha tadi? Apakah mereka saling mencintai? Apakah mereka
pacaran.
Lamunanya
kembali terusik saat Rafa menghentikan motornya di depan rumahnya. Ia segera
turun dari motor dan akan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Far, sepertinya ini pertemuan terakhir
kita.” Fara menghentikan langkahnya dan berbalik mendengar ucapan Rafa itu.
“Minggu depan aku akan berangkat keluar negeri,
aku ikut program pertukaran pelajar ke Amrik. Rencananya awal tahun aku sudah
mulai studi di sana.”
Fara hanya terdiam menahan tangis, rasanya sakit saat
mendengarnya. Apalagi Cacha juga mengikuti pertukaran pelajar itu dan Rafa
bilang dia akan satu sekolah dengan Cacha. Awan jingga yang menghiasi langit
sepertinya menjadi saksi bisu perpisahan mereka.
* * *
Sepertinya
sudah satu tahun Rafa dan Cacha meninggalkan Fara di tanah ait. Hari demi hari
ia lalui sendirian tanpa sahabat dan orang yang ia cintai.
Malam
tahun baru ini ia habiskan bersama segelas coklat panas di sebuah café. Ia
duduk sendirian di dekat jendela, agar bisa melihat hiruk – priuk masyarakat
Bandung yang merayakan tahun baru di kawasan Car Free Night di jalan Dago.
Sejenak
ia meneguk coklat panasnya yang tinggal setengah itu. Rasa hangatnya sangat
cocok dengan udara dingin malam itu. Alunan terompet khas tahun baru menjadi
hiburan tersendiri di telinganya.
Ia
kembali memandangi bintang – bintang yang terlihat dari lantai atas café
tersebut. Terlihat sebuah bintang jatuh. Ia pun segera memejamkan matanya dan
membuat permohonan. Saat ia membuka matanya terlihat seseorang duduk di
depannya yang sedang memejamkan mata membuat permohonan.
“Hai, putri kodok.”
Fara
terpaku, tak mampu berkata – kata mengungkapkan betapa bahagianya saat ini.
Melihat seseorang yang ia cintai ada di hadapanya.
“Ra…Ra…Rafa!!” Fara masih tampak
terkejut dengan kedatangannya yang tiba – tiba.
“Kapan datang?Kok gak ngasih tau.” Tanya
Fara yang sudah bisa mengontrol keterkejutannya.
“Kalau kamu tau, gak surprise dong namanya.”
Rafa terkekeh melihat ekspresi Fara.
Merekapun
hanyut dalam obrolan mereka tentang pengalaman Rafa selama studi di Amerika. Banyak
candaan di sela – sela obrolan mereka. Sudah tiga cangkir coklat panas yang
menemani Fara mendengar ocehan Rafa.
“Anyway, kamu tadi make a wish apa?” Tanya
Fara penasaran dengan permohonan Rafa saat bintang jatuh tadi.
“Rahasia dong.” Jawab Rafa dengan
memasang muka jahil.
“Pelit.” Sejenak hening.
“Far, pernah gak kamu berusaha menggapai
bintang? Tapi…yang kamu rasakan cuma khayalan. Hanya sebuah mimpi indah. Memimpikan
hal yang tak bisa digapai” Tatap Rafa lekat – lekat.
“Ehmm…” Fara memutar matanya, berpikir. “Pernah.”
“Seperti itu yang kurasakan padamu.
Mungkinkah harapan ini akan sampai. Aku ingin kamu….menjadi seseorang yang
selalu ku sayang. Itulah make a wish ku tadi. Aku mencintaimu Far.”
Fara terpaku mendengar pengakuan Rafa itu. Lidahnya
kelu tak bisa berkata – kata. Ia memutar kembali ingatannya bersama Rafa dulu.
Mengingat kejadian – kejadian yang merekalalui sejak pertama mereka bertemu
dulu. Sampai ingatan itu berhenti pada kejadian yang terjadi antara dia, Rafa
dan Cacha membuat ia melontarkan pertanyaan.
“Ca..Ca..Cacha? Bukankah kalian..?” Fara
tak sanggup melanjutkan kata - katanya. Ia menitihkan air mata. Air mata semu,
ia tak tahu arti air mata itu, bahagia atau kecewa.
“Aku dan Cacha? Kita hanya berteman. Soal
saat itu, aku langsung bilang kalau aku udah suka sama orang lain, sejak
pertama bertemu. Yaitu kamu Far.” Jawab Rafa tenang.
“Lima…empat…tiga…dua…satu.” Terdengar suara orang – orang yang menghitung waktu
mundur, tanda tahun akan berganti.
Fara
mengangguk dan berkata “I love you to,
Raf.”
“Happy New Year.” Teriakan ratusan orang di sana. Suara terompet saling
bersahutan. Terlihat warna - warni kembang api menghiasi langit, menjadikan
pemandangan indah di kota Bandung saat itu.
***SELESAI***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar