Minggu, 26 Mei 2013

Cerpen Hot Chocolate



                   Anyeong…. kawan sesama penulis yang (ngerasa) masih amatir. Nihh tulisan pertamaku. Kalau bukan gara – gara bu Heni kasih tugas bikin cerpen aku gak bakalan nulis nihh. Ya udah ga usah panjang panjang pengantarnya.. silahkan di baca..


HOT CHOCOLATE

            Tak seperti biasanya jalan begitu padat sore itu. Bunyi tlakson saling bersahutan antara keramaian. Terlihat beberapa pedagang asongan yang berseliweran menawarkan daganganya. Tiba – tiba seorang paruh baya menyodorkan minuman mineral di hadapan Fara.
            “Far..?? Mau beli minum gak?” Fara yang terhanyut dalam lamunannya sontak terkaget mendengar suara tersebut. Suara laki - laki yang sering ia dengar dua tahun ini. Suara yang selalu  membuat Fara tenang.
            “Maaf pak, saya gak beli.” Fara menggelengkan kepala kepada pedagang asongan.
             Suasana kembali hening diantara mereka. Laki – laki itu kembali fokus menerobos padatnya keramaian dengan motor putih kesayangannya itu. Dan Fara kembali hanyut dalam lamunannya, mengingat apa yang terjadi siang tadi. Kejadian yang sama sekali tidak ia bayangkan selama ini. Bahkan sejak pertemuan tak terduga denganya dua tahun lalu di sebuah festival.
* * *
            Fara setengah berlari menuju spot yang berhias pernak - pernik berwarna hijau. Fara merupakan penggemar fanatik dari keroppi, karakter berwarna hijau itu. Ia sedang berburu koleksi keroppi terbarunnya di  festival HUT kota Bandung yang jatuh pada hari itu, 25 September 2011.
            “Aduh…” Seseorang mendorong Fara hingga terjatuh. Saat Fara berdiri ia terkejut dengan sosok laki – laki  yang sedang bingung menatap bajunya.
             “Ma..ma..maaf..” Ternyata minuman yang Fara beli tadi, melayang begitu saja ke baju seseorang.
            “Aduh..maaf..maaf..aku gak sengaja.” Fara mengambil tissue dari dalam tasnya. Laki - laki itu masih bingung dan kemudian membersihkan bajunya dengan tissue yang diberikan Fara. Tetap saja noda coklat masih membekas pada baju putih itu.
            “Aduh..gak bisa bersih ya?” ucap Fara setengah berfikir.
            “Gimana kalau sekarang aku beliin baju aja, nanti baju kamu itu biar aku yang masukin ke laundry.”
            Setelah beberapa stel baju yang Fara pilih, akhirnya ia memutuskan untuk membeli baju berwarna abu – abu dengan aksen simpel di bagian bawah. Dan laki – laki itu setuju dengan baju pilihan Fara.
            “Makasih ya!” ucap laki – laki itu.
            “Ahh..gak apa apa.” Jawab Fara sambil memasukan baju kotor kedalam tasnya. “Harusnya aku yang bilang makasih. Soalnya kamu gak marah, gara – gara coklat panas ku melayang ke baju kamu.”
            Laki – laki itu tersenyum simpul. “Gimana kalau gantian aku yang traktir kamu makan.”
             Fara tersenyum kegirangan, perutnya yang sudah meronta – ronta kelaparan karena belum makan sejak pagi, tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. “Setuju…!! Gimana kalau kita makan di situ” Fara menunjuk kedai makanan Italia.
* * *
            Setelah lima belas menit menunggu, dua porsi spagetti dan dua gelas moccacino meluncur di hadapan mereka. Fara yang sedang kelaparan langsung memakan spagettinya.
            “Hahaha..pelan – pelan aja dong makannya, kalau sampe keselek garpu tau rasa tuh.” Goda laki – laki itu.
            Fara meringis mendengarnya “Gak cuma garpu yang tertelen kali, bisa – bisa piringnya juga ngikut. hahaha.” Gerutu Fara.
            “By the way, ngapain kamu ke tempat kayak gini? Sendirian pula?” Tanya laki – laki itu sambil meminum moccachinonya.
            Kamu juga sendirian.” Jawab Fara yang sedang memainkan sedotan minumannya. “Sebenarnya aku ke sini mau cari pernak – pernik keroppi yang terbaru buat nambah koleksi ku..hehe.” Laki – laki itu menatap aneh kepada Fara.
            “Pantesan  aja.” Laki – laki itu kembali menatap Fara, ia melihat apa yang Fara pakai dari ujung kepala sampai ujung kaki,semua bernuansa karakter berwarna hijau itu.
            “Agak aneh sih menurut ku, hehe.” Lanjut laki – laki itu.
             Fara menatap tajam kepada laki – laki itu dan kemudian tertawa. “Hahaha. Iya sih agak aneh.” Fara sengaja memakai baju dan yang lainya serba keroppi. Karena ia sedang berburu koleksi keroppi terbaru jadi dia memakai pakaian yang bertema sama.
            Tiba – tiba Fara menggebrak meja sehingga semua orang di tempat itu menatap mereka. “Maaf atas kehebohanku.” Fara tertawa sebelum melanjutkan perkataanya.       “Ngomong – ngomong kamu itu siapa? Kita udah ngobrol panjang lebar gini, masa belum tau satu sama lain.”
            Laki – laki itu mengulurkan tangananya. “Ohh..ya, kenalin, namaku Rafa.” Fara kembali menyambut uluran tangan Rafa. “Ehmm..aku Fara.”
            Rafa kembali meminum moccachinonya. “Lucu juga ya, kita bisa ketemu di tempat kayak gini, pakai coklat panas di bajuku lagi, terus nama kamu Fara nama ku Rafa..Fara..Rafa..Farafa..Rafara..”
            Fara kemudian meminta nomor Rafa, agar ia bisa menghubungi Rafa ketika bajunya sudah selesai dicuci. Fara menyodorkan ponselnya agar Rafa bisa menuliskan nomornya.
            ‘Coklat Panas’. Fara menuliskan sebutan itu pada nomor Rafa. Ia sengaja menuliskan sebutan itu karena insiden coklat panas yang melayang di baju Rafa membuat mereka saling mengenal bahkan bisa akrab dalam waktu sehari.
            Fara dan Rafa kembali terhanyut dalam obrolan mereka. Tiba – tiba ponsel Fara berbunyi. Sepertinya ada sebuah telepon yang masuk. Fara hanya menghela nafas, sepertinya akan ada bencana besar jika ia mengangkat telepon itu. Dengan enggan ia mendekatkan ponsel ke telinganya.
            “Halo?”
            Halo, Far, kamu di mana aja sih? Aku udah lumutan nunggu kamu di sini tau.” Fara segera menjauhkan handphone itu jauh – jauh dari telinganya. Sepertinya hal ini yang biasa ia lakukan ketika mendengar omelan dari sahabatnya itu.
            “Kenapa sms ku gak dibales – bales sih. Udah sampe satu jam aku nunggu kamu di sini. Ya udah dalam sepuluh menit kamu harus nyampe di sini. Oke!!” Sebelum Fara menjawab, telepon itu sudah di tutup. Fara hanya menggerutu karena kelakuan sahabatnya itu.
            “Kenapa Far?” Tanya Rafa penuh penasaran.
            “Sepertinya aku harus pergi sekarang.” Jawab Fara sambil membayangkan bencana yang akan ia timpa apabila ia sampai terlambat menemui Cacha, sahabatnya itu.
            “Kalau gitu, biar ku antar ya?” Pinta Rafa.
            Fara hanya mengangguk pasrah. Sebenarnya ia merasa tidak enak kepada Rafa. Namun tidak ada pilihan lain selain Rafa. Apabila ia naik taksi atau yang lainya pasti ia tidak selamat dengan bencana yang dibuat Cacha. Karena Rafa menggunakan motor, mereka bisa menerobos kemacetan dan bisa sampai tepat waktu. Rafa pun segera mengambil kunci motornya dan segera beranjak dari duduknya menuju ke parkiran.
            Dengan mengebut Rafa mengendarai motornya,  akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju tepat waktu. Terlihat Cacha yang terlihat bosan sedang menunggu di depan sebuah café. Fara langsung berlari menemui Cacha. Setelah mendapati mereka masuk ketempat itu, Rafa langsung tancap gas meninggalkan Fara di sana.
* * *
            Bel berbunyi, tanda pelajaran hari ini telah usai. Fara dan Cacha bergegas berjalan keluar kelas. Tiba – tiba  ponsel Fara berbunyi. Ia pun segera mengambilnya dari saku bajunya. ‘Coklat Panas’. Terlihat sebuah pesan dari Rafa di layar ponselnya.
            ‘Far udah pulang belum. Aku tunggu di depan sekolah kamu ya!’
            Sontak Fara kaget dengan pesan itu. Ia merasa aneh dengan hatinya yang berdetak kencang. Segelintir pertanyaan memenuhi kepalanya. Bagaimana dia bisa tau di mana sekolahku? Kenapa dia mengirim pesan ini? Ia pun berpamitan kepada Cacha untuk pulang duluan.
            Fara sangat terkejut ketika ia menjumpai seorang anak SMA yang sedang duduk di samping motor putihnya. Seseorang yang ia temui kemarin di festival. Seseorang yang bajunya ia tumpahi coklat panas.
            “Hai putri kodok.” Rafa berjalan menghampiri Fara dan tersenyum padanya.
            Rafa segera menarik Fara menuju motornya. Fara hanya menurut dan naik ke atas motor Rafa. Mereka meluncur menuju sebuah café Italia. Saat ini mereka memesan dua porsi ravioli dan dua gelas coklat panas.
            “Wahh..kamu hebat ya Raf, tau aja deh selera aku apa. Masakan Italia dan coklat panas. Jempol buat kamu dehh.” Ucap Fara sambil megangkat kedua jempolnya kepada Rafa.
            “Haha..iya dong. Aku gitu.” Pamer Rafa sambil mengernyitkan kedua alisnya ke atas.
            “Kamu kok bisa tau sekolah ku di mana?” tanya Fara sambil memasukan ravioli ke mulutnya.
            “Dari seragam yang di pake temen kamu itu.” Jawab Rafa.
            Semua orang pasti tahu seragam putih dengan rok beraksen kotak – kotak besar berwarna merah hati itu adalah seragam milik siswi - siswi SMA Kartini. Nama SMA favorit khusus wanita itu sudah terkenal di kota kembang ini.
            “Cacha maksud kamu?” Jawab Fara meyakinkan.
            “Oh iya. Ini punya kamu kan?.” Lanjut Fara seraya mengeluarkan baju berwarna putih dari tasnya. Tak nampak lagi noda coklat yang menempel pada baju itu.
            “Sebenarnya aku mau nyimpen baju yang masih ada coklatnya itu. Buat kenang – kenangan.” Jawab Rafa yang sedari tadi menatap Fara.
            Fara tercenan mendengar jawaban Rafa itu. Raut mukanya seketika berubah. Ia tak mengerti maksud dari kata – kata itu. Kenang – kenangan. Apa yang akan ia kenang? Baju? Mungkin kah aku? Pertanyaan konyol itu berseliweran di kepala Fara. Rafa yang melihat perubahan raut wajah Fara melanjutkan perkataanya.
            “Haha..aku hanya ingin mengingat betapa konyolnya aku waktu itu.” Fara menghela nafas lega mendengarnya.
            Setelah selesai makan Rafa mengantar Fara pulang. Sejak saat itu mereka sering bertemu. Tak jarang setiap malam minggu mereka menonton film bersama di bioskop. Bahkan setiap berangkat dan pulang sekolah Rafa selalu mengantar Fara.
* * *
            Pagi itu matahari bersinar cerah, langit begitu biru tak ada satupun awan yang terlihat. Tempat itu sudah di penuhi oleh orang – orang yang berolah raga atau sekedar menghabiskan waktu pagi di luar rumah. Sudah beberapa kali Fara dan Cacha bolak – balik menelusuri jalan Dago itu. Setiap hari minggu mereka berlari pagi bersama di kawasan Car Free Day itu.
            “Far… aku udah capek nih, istirahat dulu ya.” Keluh Cacha yang terengah – engah di belakang Fara.
            Fara mendongak ke belakang mendapati sepeda yang melaju akan menabrak Cacha. Buru – buru ia menariknya. Fara memandangi pengendara sepeda tadi. Sepertinya ia mengenalinya. Sepeda tadi berbalik menemui mereka.
            “Maaf, aku gak se...” Kalimat itu tiba – tiba terpotong.
            “Rafa!!” Seru Fara.
            “Hai, putri kodok.” Sapa Rafa
            “Kenalin Raf, ini Cacha.” Kata Fara mengenalakan sahabatnya itu.
            Seketika mereka bertiga langsung hanyut dalam obrolan mereka. Hingga mereka sadar satu per satu orang – orang meninggalkan kawasan Car Free Day itu. Jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih empat puluh lima menit. Berarti lima belas menit lagi Car Free Day sudah usai.
            “Aku pulang duluan ya, besok malam  aku tunggu kalian berdua jam tujuh ya.” Ucap Rafa sebelum meninggalkan mereka berdua.
*  * *
            Sebuah mobil jazz merah parkir tepat di depan rumah Fara. Tampaknya Cacha sudah ada di sana sejak sore tadi. Ia sengaja datang ke rumah Fara lebih awal agar terhindar macet. Tampak dua gadis yang keluar dari rumah Fara menuju ke mobil jazz itu. Tak lama kemudian mobil itu melaju menuju sebuah café.
            Setelah sepuluh menit perjalanan, mereka sampai di tempat tujuan. Cacha segera memarkirkan mobilnya. Mereka pun masuk ke dalam café yang di dominasi warna pink itu. Warna yang menggambarkan suasana saat itu, yaitu suasana valentine.
            “Hei.. lama nunggu ya.” Sapa Fara kepada lelaki yang memakai kemeja biru marun itu. Wajahnya begitu mempesona di bawah lampu yang menerangi tempat itu.
            Sejenak obrolan mereka terhenti saat makanan yang mereka pesan datang. Obrolan meraka kembali mengalir dengan hangat, sampai sebuah pertanyaan yang dilontarkan Cacha membuat Fara beku.
            “Kalian berdua pacaran ya?”
            “Enggak!” bantah Fara yang salah tingkah. Pipinya yang chubby seketika memerah. Perasaan aneh tiba – tiba menyelimuti hatinya. Ia melirik ke arah Rafa yang sempat terkejut, hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan itu.      
            “Berarti masih ada harapan buatku dong.” Ucap Cacha lirih sampai tak terdengar  oleh siapapun.
* * *
            Dalam perjalanan pulang, mobil Cacha terasa sepi. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing – masing. Fara sibuk memainkan game di ponselnya dan Cacha sibuk menyetir mobilnya.
            “Far.. kayaknya aku suka sama Rafa.” Ungkap Cacha membuat Fara menjatuhkan ponselnya.
            Fara menatap tajam sahabatnya itu. Perasaan aneh kembali menyelimuti hatinya. Perasaan yang sama saat Cacha melontarkan pertanyaan di café tadi. Kata – katanya saat ini membuat hati Fara terasa sesak dan membuat ia sadar akan perasaanya selama ini. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata. Perasaan yang sudah lama ada sejak ia menupahkan coklat panasnya di festival dulu. Perasaan yang dalam kepada laki – laki itu. Laki - laki yang juga di sukai oleh sahabatnya sendiri, sahabat terbaiknya.
* * *
            Akhir tahun adalah hal yang di tunggu – tunggu oleh semua siswi di SMA Kartini. Seperti tahun – tahun sebelumnya acara yang di selenggarakan sebelum libur akhir semester itu selalu ramai dipenuhi orang – orang. Tak hanya murid SMA Kartini yang semuanya adalah perempuan itu, melainkan semua orang boleh ikut meramaikan acara tersebut.
            Tampak Fara yang sedang membonceng di belakang Rafa memasuki area sekolah. Segera diparkirkan motornya. Cacha yang memakai ID card bertuliskan panitia sedang menunggi Fara tak jauh dari parkiran.
            “Maaf ya Far, aku gak bisa jemput. Soalnya di sini sibuk banget.”   Ucap Cacha yang segera menggandeng Fara.
            “Iya, gak apa – apa. Aku juga gak minta kamu jemput aku kan.” Jawab Fara dingin. Sejak pengakuan Cacha malam itu, ia bertingkah dingin kepada Cacha. Sebenarnya ia tidak menginginkan itu, namun ada perasaan yang membuat Fara bertingkah seperti itu.
            “Oh ya, makasih ya Raf udah jemput Fara. Tetep nonton acaranya ya, tengah hari nanti aku mau nyanyi.” Cacha berlalu meninggalkan mereka berdua.
            Semakin siang, acara itu semakin seru. Terlihat Cacha yang menaiki panggung, seperti katanya tadi, ia akan bernyanyi tepat tengah hari. Karena hari itu begitu terik, Fara meningalkan Rafa membeli minuman untuk mereka berdua. Terdengar suara Cacha dari kejauhan.
            “Siang semua, kali ini aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sedang berdiri disana” Cacha menunjuk seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari panggung.
Berdiriku di sini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam hati kecilku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu
            Fara mendengarkan baik – baik lirik yang dinyanyikan Cacha. Lirik lagu yang sering dinyanyikan band Geisha itu berjudul ‘Pilihan Hati’. Terlintas di benaknya. Untuk siapa lagu di tujukan? Tak seperti biasanya Cacha bertindak seberani itu.
            “Lagu ini buat kamu, Raf. I Love You, Rafa.” Ucap Cacha di akhir lagunya.
            Dua gelas cocho shake  yang dibawa Fara sontak terjatuh. Pertanyaannya yang tadi terlintas di benaknya terjawab sudah. Lagu itu untuk Rafa. Tubuh Fara lemas seketika menyadari kata - kata Cacha di akhir lagu tadi yang merupakan pernyataan cintanya kepada Rafa. Dan Fara tambah terkejut mendapati Rafa yang akan menaiki pangung.
            Tanpa berfikir panjang, Fara berlari meninggalkan tempat itu. Ia berlari ke tempat di mana tidak ada seorangpun di sana. Ia menutupi telinganya agar ia tidak mendengar suara Cacha dan Rafa yang masih terdengar samar – samar. Dan ia menangis meluapkan perasaanya yang tidak menentu di sana.
            Hari sudah semakin sore, acara itu sudah berakhir. Fara yang masih berada di tempat itu beranjak dari duduknya akan pulang. Cacha dan Rafa yang sedari tadi sibuk mencari Fara akhirnya menemukanya di depan gerbang.
            “Far, kamu ke mana aja sih? “ Ucap Cacha khawatir. “Aku antar pulang ya.”
            Fara hanya mengeleng mendengar ajakan Cacha.
            “Bagaimanapun aku tadi yang menjemput kamu kan. Jadi kamu harus mau kalau aku antar pulang.” Ucap Rafa memakasa. Ia segera menariknya ke parkiran dan memakaikan helm untuknya. Fara hanya menurut saat Rafa menyuruhnya naik ke atas motor.
* * *
            Tak seperti biasanya jalan begitu padat sore itu. Bunyi tlakson saling bersahutan antara kendaraan – kendaraan itu. Terlihat beberapa pedagang asongan yang berseliweran menawarkan daganganya. Tiba – tiba seorang paruh baya menyodorkan minuman mineral di hadapan Fara.
            “Far..?? Mau beli minum gak?” Fara yang terhanyut dalam lamunannya sontak terkaget mendengar tawaran Rafa.
            “Maaf pak, saya gak beli.” Fara menggelengkan kepala kepada pedagang asongan.
             Suasana kembali hening diantara mereka. Rafa kembali fokus menerobos padatnya keramaian dengan motor putih kesayangannya itu. Fara kembali hanyut dalam lamunannya, mengingat apa yang terjadi siang tadi. Segelintir pertanyaan melintas di benaknya. Apakah yang terjadi tadi di antara Rafa dan Cacha tadi? Apakah mereka saling mencintai? Apakah mereka pacaran.
            Lamunanya kembali terusik saat Rafa menghentikan motornya di depan rumahnya. Ia segera turun dari motor dan akan melangkah masuk ke dalam rumah.
            “Far, sepertinya ini pertemuan terakhir kita.” Fara menghentikan langkahnya dan berbalik mendengar ucapan Rafa itu.
            “Minggu depan aku akan berangkat keluar negeri, aku ikut program pertukaran pelajar ke Amrik. Rencananya awal tahun aku sudah mulai studi di sana.”
            Fara hanya terdiam menahan tangis, rasanya sakit saat mendengarnya. Apalagi Cacha juga mengikuti pertukaran pelajar itu dan Rafa bilang dia akan satu sekolah dengan Cacha. Awan jingga yang menghiasi langit sepertinya menjadi saksi bisu perpisahan mereka.
* * *
            Sepertinya sudah satu tahun Rafa dan Cacha meninggalkan Fara di tanah ait. Hari demi hari ia lalui sendirian tanpa sahabat dan orang yang ia cintai.
            Malam tahun baru ini ia habiskan bersama segelas coklat panas di sebuah café. Ia duduk sendirian di dekat jendela, agar bisa melihat hiruk – priuk masyarakat Bandung yang merayakan tahun baru di kawasan Car Free Night di jalan Dago.
            Sejenak ia meneguk coklat panasnya yang tinggal setengah itu. Rasa hangatnya sangat cocok dengan udara dingin malam itu. Alunan terompet khas tahun baru menjadi hiburan tersendiri di telinganya.
            Ia kembali memandangi bintang – bintang yang terlihat dari lantai atas café tersebut. Terlihat sebuah bintang jatuh. Ia pun segera memejamkan matanya dan membuat permohonan. Saat ia membuka matanya terlihat seseorang duduk di depannya yang sedang memejamkan mata membuat permohonan.
            “Hai, putri kodok.”
            Fara terpaku, tak mampu berkata – kata mengungkapkan betapa bahagianya saat ini. Melihat seseorang yang ia cintai ada di hadapanya.
            “Ra…Ra…Rafa!!” Fara masih tampak terkejut dengan kedatangannya yang tiba – tiba.
            “Kapan datang?Kok gak ngasih tau.” Tanya Fara yang sudah bisa mengontrol keterkejutannya.
            “Kalau kamu tau, gak surprise dong namanya.” Rafa terkekeh melihat ekspresi Fara.
            Merekapun hanyut dalam obrolan mereka tentang pengalaman Rafa selama studi di Amerika. Banyak candaan di sela – sela obrolan mereka. Sudah tiga cangkir coklat panas yang menemani Fara mendengar ocehan Rafa.
            “Anyway, kamu tadi make a wish apa?” Tanya Fara penasaran dengan permohonan Rafa saat bintang jatuh tadi.
            “Rahasia dong.” Jawab Rafa dengan memasang muka jahil.
            “Pelit.” Sejenak hening.
            “Far, pernah gak kamu berusaha menggapai bintang? Tapi…yang kamu rasakan cuma khayalan. Hanya sebuah mimpi indah. Memimpikan hal yang tak bisa digapai” Tatap Rafa lekat – lekat.
            “Ehmm…” Fara memutar matanya, berpikir. “Pernah.”
            “Seperti itu yang kurasakan padamu. Mungkinkah harapan ini akan sampai. Aku ingin kamu….menjadi seseorang yang selalu ku sayang. Itulah make a wish ku tadi. Aku mencintaimu Far.”
            Fara terpaku mendengar pengakuan Rafa itu. Lidahnya kelu tak bisa berkata – kata. Ia memutar kembali ingatannya bersama Rafa dulu. Mengingat kejadian – kejadian yang merekalalui sejak pertama mereka bertemu dulu. Sampai ingatan itu berhenti pada kejadian yang terjadi antara dia, Rafa dan Cacha membuat ia melontarkan pertanyaan.
            “Ca..Ca..Cacha? Bukankah kalian..?” Fara tak sanggup melanjutkan kata - katanya. Ia menitihkan air mata. Air mata semu, ia tak tahu arti air mata itu, bahagia atau kecewa.
            “Aku dan Cacha? Kita hanya berteman. Soal saat itu, aku langsung bilang kalau aku udah suka sama orang lain, sejak pertama bertemu. Yaitu kamu Far.” Jawab Rafa tenang.
            “Lima…empat…tiga…dua…satu.” Terdengar suara orang – orang yang menghitung waktu mundur, tanda tahun akan berganti.
            Fara mengangguk dan berkata “I love you to, Raf.”
            “Happy New Year.” Teriakan ratusan orang di sana. Suara terompet saling bersahutan. Terlihat warna - warni kembang api menghiasi langit, menjadikan pemandangan indah di kota Bandung saat itu.
***SELESAI***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

myBLog :) Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea