Selasa, 15 Januari 2013

Cabang Ilmu Biologi


Acarologi, ilmu yang mempelajari tentang acarina (tungau)
Agronomi, ilmu yang mempelajari tentang tanaman budidaya
Algologi, ilmu yang mempelajari tentang alga
Anatomi atau ilmu urai tubuh, ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tubuh
Anatomi Perbandingan, ilmu mengenai persamaan dan perbedaan anatomi dari makhluk hidup.
Anestesiologi, disiplin ilmu yang mempelajari penggunaan anestesi.
Apiari, ilmu yang mempelajari tentang lebah termasuk ternak lebah.
Arachnologi, ilmu yang mempelajari tentang laba-laba.
 Artrologi, ilmu yang mempelajari tentang sendi (penyakit sendi).
Bakteriologi, ilmu yang mempelajari tentang bakteri.
Bioinformatika, ilmu yang mempelajari penerapan teknik komputasional untuk mengelola dan menganalisis informasi biologis
Biologi Molekuler, kajian biologi pada tingkat molekul
Biologi Reproduksi, cabang biologi yang mendalami tentang perkembangbiakan
Biokimia, kajian biologi yang mempelajari kimia makhluk hidup
Biofisika. cabang ilmu biologi yang mengkaji aplikasi aneka perangkat dan hukum fisika untuk menjelaskan aneka fenomena hayati atau biologi
Biogeografi, cabang dari biologi yang mempelajari tentang keaneka ragaman hayati berdasarkan ruang dan waktu
Biostatistika, (gabungan dari kata biologi dengan statistika; kadang-kadang dirujuk sebagai biometri atau biometrika) adalah penerapan ilmu statistika ke dalam ilmu biologi
Bioteknologi, cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.
Botani, Ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan
Bryologi, ilmu yang mempelajari tentang lumut
Dendrologi, ilmu yang mempelajari tentang pohon maupun tumbuhan berkayu lainnya, seperti liana dan semak
Dermatologi, ilmu yang mempelajari kulit dan penyakitnya
Ekologi, ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbale balik antara makhluk hidup dan lingkungannya
Epidemiologi, ilmu yang mempelajari tentang penularan penyakit
Embriologi, ilmu yang mempelajari tentang perkembangan embrio
Endokrinologi, ilmu yang mempelajari tentang hormone
Entomologi, Ilmu yang mempelajari tentang serangga
Etnobotani, ilmu yang mempelajari hubungan manusia dan tumbuhan
Etnozoologi, ilmu yang mempelajari hubungan manusia dan hewan
Etologi, cabang ilmu zoologi yang mempelajari perilaku atau tingkah laku hewan, mekanisme serta faktor-faktor penyebabnya
Eugenetika, ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat
Evolusi, ilmu yang mempelajari perubahan makhluk hidup dalam jangka panjang
Enzimologi, ilmu yang mempelajari tentang enzim
Farmakologi,ilmu yang mempelajari obat-obatan, interaksi dan efeknya terhadap tubuh manusia
Fikologi, Ilmu yang mempelajari tentang alga.
filogeni, kajian mengenai hubungan di antara kelompok-kelompok organisme yang dikaitkan dengan proses evolusi yang dianggap mendasarinya
Fisiologi, Ilmu yang mempelajari tentang faal/fungsi kerja tubuh
Fisioterapi, Ilmu yang mempelajari tentang pengobatan terhadappenderita yang mengalami kelumpuhan atau gangguan otot
Fitopatologi, cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari penyakit tumbuhan akibat serangan patogen ataupun gangguan ketersediaan hara
Gastrologi, ilmu yang mempelajari tentang salurang pencernaan, terutama lambung dan usus
Genetika, ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat
Genetika kuantitatif, Cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel
Genetika molukuler, cabang genetika yang mengkaji bahan genetik dan ekspresi genetik di tingkat subselular (di dalam sel)
Genetika , cabang genetika yang membahas transmisi bahan genetik pada ranah populasi
Ginekologi, ilmu yang khusus mempelajari penyakit-penyakit sistem reproduksi wanita (rahim, vagina dan ovarium)
Genomika, ilmu yang mempelajari tentang bahan genetik dari suatu organisme atau virus
Harpetologi, ilmu yang mempelajari reptilia dan ampibia (ular dan kadal)
Hematologi, ilmu yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya
Histologi, ilmu yang mempelajari tentang jaringan
Higiene, ilmu yang mempelajari tentang kesehatan makhluk hidup
Ikhtiologi, Ilmu yang mempelajari tentang ikan
Imunologi, Ilmu yang mempelajari tentang sistem kekebalan (imun) tubuh
Kardiologi, ilmu yang mempelajari tentang jantung dan pembuluh darah
Karsinologi, ilmu yang mempelajari tentang crustacean
Limnologi, ilmu yang mempelajari tentang rawa
Malakologi, ilmu yang mempelajari tentang mollusk
Mamologi, ilmu yang mempelajari tentang mammalian
Metabolomika, kajian dalam biologi molekular yang memusatkan perhatian pada keseluruhan produk proses enzimatik yang terjadi di dalam sel
Mikobiologi, ilmu yang mempelajari tentang jamur
Mikrobiologi, ilmu yang mempelajari tentang organism
Miologi, ilmu yang mempelajari tentang otot
Mirmekologi, ilmu yang mempelajari tentang rayap
Morfologi, ilmu yang mempelajari tentang bentuk atau ciri luar organism
Nematologi, ilmu yang mempelajari tentang nematode
Nefrologi, cabang medis internal yang mempelajari fungsi dan penyakit ginjal
Neurologi, Ilmu yang menangani penyimpangan pada sistem sara
Organologi, ilmu yang mempelajari tentang organ
Onkologi, ilmu yang mempelajari tentang kanker dan cara pencegahannya
Ontogeni, Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhluk hidup dari zigot menjadi dewasa
Ornitologi, ilmu yang mempelajari tentang burung
Osteologi, ilmu yang mempelajari tentang tulang
Oftalmologi, ilmu yang mempelajari tentang mata ( penyakit mata )
Palaentologi, Ilmu yang mempelajari tentang fosil
Paleobotani, ilmu yang mempelajari tumbuhan masa lampau
Paleozoologi, ilmu yang mempelajari tentang hewan purba
Palinologi, ilmu yang mempelajari polinomorf yang ada saat ini dan fosilnya, diantaranya serbuk sari, sepura, dinoflagelata, kista, acritarchs, chitinozoa, dan scolecodont, bersama dengan partikel material organik dan kerogen yang terdapat pada sedimen dan batuan sedimen
Parasitologi, ilmu yang mempelajari tentang parasit
Patologi, ilmu yang mempelajari tentang penyakit
Patologi anatomi, ilmu yang mempelajari kelainan struktur mikroskopik dan makroskopik berbagai organ dan jaringan yang disebabkan penyakit atau proses lainnya
Patologi Klinik, ilmu yang mempelajari kelainan yang terjadi pada berbagai fungsi organ atau sistem organ
Pediatri, ilmu yang mempelajari masalah penyakit pada bayi dan anak
Philogeni, Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhlukhidup
Primatologi, ilmu yang mempelajari tentang primate
Proteomika, kajian secara molekular terhadap keseluruhan protein yang dihasilkan dari ekspresi gen di dalam sel.
Protozoologi, ilmu yang mempelajari tentang protozoa
Psikiatri, ilmu kedokteran jiwa
Pteridologi, ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan pak
Pulmonologi, ilmu yang mempelajari tentang paru-par
Radiologi, ilmu untuk melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi geombang, baik gelombang elektromagnetik maupun gelombang mekanik
Reumatologi, ilmu yang ditujukan untuk diagnosis dan terapi kondisi dan penyakit yang mempengaruhi sendi, otot, dan tulang
Rekayasa Genetika, ilmu yang mempelajari tentang manipulasi sifat genetis
Rodentiologi, ilmu yang mempelajari tentang rodentia
Sitologi, ilmu yang mempelajari tentang sel
Sanitasi, ilmu yang mempelajari tentang lingkungan
Taksonomi, ilmu yang mempelajari tentang sistematika makhluk hidup
Teknik Biokimia, cabang ilmu dari teknik kimia yang berhubungan dengan perancangan dan konstruksi proses produksi yang melibatkan agen biologi
Teratologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perubahan formasi dari sel, jaringan, dan organ yang dihasilkan dari perubahan fisiologi dan biokimia.
Toksikologi adalah pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh bahan kimia yang merugikan bagi organisme hidup.
Transkriptomika, bagian dari biologi molekular yang mengkaji tentang produk transkripsi secara keseluruhan (transkriptom)
Urologi, cabang ilmu kedokteran yang mencakup ginjal dan saluran kemih pada pria dan wan ita baik dewasa dan anak serta organ reproduksi pada pria
Virologi, ilmu yang mempelajari tentang virus
Zoologi, ilmu yang mempelajari tentang hewan

Kejenuhan Belajar

Perilaku siswa tentu tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan pembelajaran di sekolah, karena itu seorang guru harus peduli terhadap apa yang dialami serta perubahan yang terjadi pada siswanya. Kerapkali para guru tidak menyadari bahwa jebakan rutinitas seperti duduk, diam, mendengarkan dan menulis, tuntutan standar keberhasilan belajar yang tinggi, tugas rumah yang menumpuk dan perilaku introvert malu bertanya kepada guru padahal belum bisa, merupakan rutinitas setiap hari di sekolah. Dengan siswa yang memiliki kebutuhan dan kemampuan belajar yang berbeda, membiarkan pembelajaran menjadi monoton dan tidak bervariasi tentu bukan hal yang manusiawi. Kalau sudah begini, sudah pasti yang akan dialami siswa adalah kejenuhan belajar. Tanpa melihat umur dan status, secara manusiawi hal ini dapat menimpa siapa saja termasuk siswa.
Istilah kejenuhan atau burn out pertama kali dikemukakan oleh Herbert J. Freudenberg pada tahun 1974. Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti bosan. Freudenberg menggambarkan seseorang yang mengalami kejenuhan terlibat secara somatis dengan fungsi tubuhnya, seperti secara terus menerus merasa kehilangan energi dan sangat lelah, tidak mampu menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang berarti, menderita sakit kepala berkepanjangan, mengalami gangguan pencernaan, gangguan tidur, hingga sesak nafas. Perilaku seseorang yang mengalami kejenuhan ditunjukan dengan begitu mudah cepat marah, mudah terluka dan menjadi frustrasi.
Dalam pembelajaran di sekolah, siswa sering mengalami kelupaan dan terkadang juga mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar atau dalam bahasa psikolog lazim disebut learning plateau (baca: pletou).  Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil. Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Sehingga siswa yang bersangkutan menjadi pesimis terhadap keberhasilan belajarnya, hingga tidak jarang menghukum diri sendiri atas ketidak mampuannya tersebut. Kondisi inilah yang kemudian dikenali sebagai gejala keletihan siswa.
Menurut Cross (1974) dalam bukunya The Psychology of Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yakni: 1) keletihan indera siswa; 2) keletihan fisik siswa; 3) keletihan mental siswa. Khusus untuk penyebab keletihan mental siswa, terdapat empat factor antara lain; 1) Karena kecemasan siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri; 2) Karena kecemasan siswa terhadap standar keberhasilan bidang studi tertentu yang dianggap terlalu tinggi, terutama ketika siswa tersebut sedang merasa bosan terhadap bidang studi tersebut; 3) Karena siswa berada ditengah situasi kompetitif yang ketat dan menuntut kerja intelektual yang berat; 4) Karena siswa mempercayai konsep kinerja akademik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai belajarnya sendiri hanya berdasarkan ketentuan yang ia bikin sendiri (self-imposed)
Robert, M. Gagner (dalam Lamudji, 2005), menyebutkan bahwa untuk membuat pembelajaran berpengaruh positif pada siswa dan tidak menimbulkan kejenuhan, dapat dilakukan dengan pemberian motivasi. Membangkitkan motivasi dalam diri peserta didiknya agar semakin aktif belajar, perlu dibangun guru melalui dua jenis motivasi, yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. dorongan serta gairah yang timbul dari dalam peserta didik itu sendiri, misalnya mendapat manfaat praktis dari siswaan, mendapat penghargaan dari teman atau guru, hingga ingin mendapat nilai yang baik sebagai bukti “mampu berbuat” merupakan bentuk dari motivasi intrinsik. Sedangkan, dorongan yang mengacu kepada faktor-faktor luar yang turut mendorong munculnya gairah belajar, seperti lingkungan social atau kelompok, lingkungan fisik yang memberi suasana nyaman, tekanan, kompetisi, termasuk fasilitas belajar yang memadai dan membangkitkan minat adalah bentuk motivasi ekstrinsik
Siswa yang Berhasil
Sekolah merupakan misi yang dilaksanakan untuk mencapai bermacam-macam  keinginan siswa  atas pengetahuan dasar, wawasan, peningkatan kemampuan dan pengetahuan yang mendalam (Perkin dalam Sopiatin, 2010).  Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang memiliki visi dan misi, keyakinan dan nilai-nilai, tujuan serta objek serta faktor kritis keberhasilan. Sedangkan kualitas sekolah dapat dilihat dari kualitas  input,  kualitas proses, kualitas outcome, dan adanya jaminan mutu terhadap pengguna. Sekolah bermutu merupakan harapan dari semua pihak, sehingga tidak mengherankan jika setiap siswa berlomba untuk dapat diterima disekolah tersebut. Sekolah yang mempunyai kualitas pelayanan pendidikan yang baik dan dapat memberikan kepuasan terkait dengan prestasi belajar siswa.
Seperti halnya musisi, penari ataupun pemain golf, tentu tidak dapat berhasil apabila mereka tidak mempraktekkannya, selain dari membaca ataupun mendengarkan dasar-dasar dan teknik-teknik khusus dalam kelas.  Agar  mencapai keberhasilan dan kesuksesan, siswa harus mampu mengatur dirinya dalam belajar untuk memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada agar bisa menjadi siswa yang berhasil dalam pendidikannya. Pengaturan diri dalam hal akademis ini disebut dengan academic self management, suatu strategi pembelajaran yang digunakan oleh siswa untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajarannya (Dempo, 2004). Sehingga menjadi tugas guru untuk membekali siswa dengan kemampuan “self-management”, sebagai teknik memodifikasi perilaku untuk merubah perilaku diri sendiri. Tidak hanya membelajarkan apa yang seharusnya dipelajari, tetapi juga membelajarkan bagaimana belajar.
Mengajarkan siswa untuk mampu mengawasi kinerjanya sendiri (self-monitoring) merupakan langkah awal, membentuk siswa yang bertanggung jawab pada perilaku dan sekaligus tahapan untuk menjadi “agents of change” (Hanson, 1996; Porter, 2002; Rutherford, Quinn, & Mathur, 1996).  Self-monitoring sendiri didefinisikan sebagai praktek pengamatan dan pencatatan akademik dan perilaku sosial seseorang (Hallahan & Kauffman, 2000; Rutherford, Quinn, & Mathur, 1996; Vaughn, Bos, & Schumm, 2000).   Apabila self monitoring seseorang telah terbentuk, maka tahapan selanjutnya adalah penguasaan self management untuk mengelola kemampuan tersebut. Self-management bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa bagaimana mengatur proses pembelajarannya atau mengefektifkan perilakunya. Kembali pada deskripsi permasalahan diawal tulisan ini, maka menjadi penting bagi seorang guru untuk merubah pola berfikirnya tentang siswa yang berhasil.
Siswa yang berhasil bukanlah mereka yang mengetahui sesuatu lebih dari yang lain, tetapi mereka yang memiliki strategi yang efektif dan efisien untuk mengakses dan menggunakan pengetahuan, memotivasi diri sendiri dan dapat memonitor atau mengubah perilaku ketika pembelajaran itu tidak terjadi. Sebab sistem pendidikan formal tidak menjamin siswa untuk sukses. Kesuksesan bukan hanya sekedar kemampuan akademis, tetapi juga kemampuan diri (personal skill) yang baik.  Siswa yang drop-out bukan karena dia memiliki kemampuan yang di bawah rata-rata, tetapi karena dia tidak dapat mengatur dirinya, dalam hal pendidikan. Oleh sebab itu sebagai catatan akhir tulisan ini, seorang guru tidak boleh berputus asa untuk mencari “sejuta cara” agar siswanya menjadi orang-orang yang berhasil dengan mandiri dalam belajar.

Jenis Karangan


Jenis Jenis Karangan

1.      NARASI,

Adalah karangan yang berisi tentang rangkaian peristiwa yang susul-menyusul sehingga membentuk alur cerita.

Contoh :

Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.



Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.
2.      DESKRIPSI,

Adalah karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengarkan hal tersebut.

Contoh:

Masih melekat di mataku, pemandangan indah nan elok pantai Parang Tritis. Gelombang ombak bergulung-gulung datang silih berganti menyambutku serasa ingin mengajak bermain. Air yang jernih dan pasir putih lembut yang menghampar luas tanpa ada tumbuh-tumbuhan atau karang yang menghalangi membuatku ingin kembali lagi. Di sebelah kanan-kiri, aku bisa memandang air laut sejauh mata memandang, pandai dengan bukit berbatu, pesisir serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Kurasakan dingin membasuh kakiku karena ombah menghempas kakiku dan terasa asin air itu ketika bibirku terkena percikan. Sepanjang aku berjalan, hampir pinggiran pantai dipenuhi oleh pengunjung wisatawan. Kulihat ada yang berlari berkejar-kejaran di bibir pantai, bermain bola, bermain dengan air, berfoto-foto dengan latar sekitar pantai. Tapi yang paling membuatku tertarik, kulihat ada beberapa turis manca negara yang menikmati keindahan pantai ini dengan naik delman. Seperti apa yang aku lihat, pantai ini memang sangat ramai pengunjung. Tak pernah sunyi pantai Parang Tritis.


3.      EKSPOSISI,

Adalah karangan yang berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan.

Contoh :

Pernahkan Anda menghadapi situasi tertentu dengan perasaan takut? Bagaimana cara mengatasinya? Di bawah ini ada lima jurus untuk mengatasi rasa takut tersebut. Pertama, persipakan diri Anda sebaik-baiknya bila menghadapi situasi atau suasana tertentu; kedua, pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi tersebut; ketiga, pupuk dan binalah rasa percaya diri; keempat, setelah timbul rasa percaya diri, pertebal keyakinan Anda; kelima, untuk menambah rasa percaya diri, kita harus menambah kecakapan atau keahlian melalui latihan atau belajar sungguh – sungguh.
4.      ARGUMENTASI,

Menurut Buku ‘Argumentasi dan Narasi’ karya Gorys Keraf, argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara.

Contoh :

Pendidikan gratis hanya janji yang bergema luas saat kampanye dan pemilihan pimpinan daerah maupun pusat. Saat pemilihan usai akan lain ceritanya. Anak-anak miskin di kota, desa, dan pedalaman tetap mengalami kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak. Di perkotaan sekolah berlomba-lomba meningkatkan sarana dan prasaran dengan jalan menaikkan pungutan dengan dalil sumbangan pendidikan, uang gedung, dan lain-lain karena biasanya masyarakat perkotaan lebih memilih sekolah yang mempunyai sarana pendidikan yang baik sehingga mereka tidak akan segan untuk membayar mahal demi memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Sebaliknya di pinggiran kota, pedesaan, dan pedalaman, sekolah tidak bisa mengenakan pungutan kepada orang tua siswa karena tidak ada lagi yang bisa dipungut dari masyarakat. Para siswa harus puas dengan kondisi fasilitas pendidikan yang jauh dari kata layak.

5.      PERSUASI,

Adalah karangan yang bertujuan mempengaruhi emosi pembaca untuk berbuat sesuatu sesuai keinginan penulis, atau karangan yang bersifat ajakan.


Contoh ;

Sistem pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong. Selain itu, berdasarkan penelitian, rata-rata nilai tes siswa SD kelas VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dari tahun ke tahun semakin menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan ini disajikan bukan untuk mencari kesalahan penentu kebijakan, pelaksana pendidikan, dan keadaan yang sedang melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita menyadari sistem pendidikan kita mengalami krisis. Oleh karena itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan nasional.



 

myBLog :) Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea