Perilaku
siswa tentu tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan pembelajaran di sekolah,
karena itu seorang guru harus peduli terhadap apa yang dialami serta perubahan
yang terjadi pada siswanya. Kerapkali para guru tidak menyadari bahwa jebakan
rutinitas seperti duduk, diam, mendengarkan dan menulis, tuntutan standar
keberhasilan belajar yang tinggi, tugas rumah yang menumpuk dan perilaku
introvert malu bertanya kepada guru padahal belum bisa, merupakan rutinitas
setiap hari di sekolah. Dengan siswa yang memiliki kebutuhan dan kemampuan
belajar yang berbeda, membiarkan pembelajaran menjadi monoton dan tidak
bervariasi tentu bukan hal yang manusiawi. Kalau sudah begini, sudah pasti yang
akan dialami siswa adalah kejenuhan belajar. Tanpa melihat umur dan status,
secara manusiawi hal ini dapat menimpa siapa saja termasuk siswa.
Istilah
kejenuhan atau burn
out pertama kali dikemukakan oleh Herbert J. Freudenberg pada tahun
1974. Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu
lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti bosan. Freudenberg
menggambarkan seseorang yang mengalami kejenuhan terlibat secara somatis dengan
fungsi tubuhnya, seperti secara terus menerus merasa kehilangan energi dan
sangat lelah, tidak mampu menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang
berarti, menderita sakit kepala berkepanjangan, mengalami gangguan pencernaan,
gangguan tidur, hingga sesak nafas. Perilaku seseorang yang mengalami kejenuhan
ditunjukan dengan begitu mudah cepat marah, mudah terluka dan menjadi
frustrasi.
Dalam
pembelajaran di sekolah, siswa sering mengalami kelupaan dan terkadang juga
mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar atau dalam
bahasa psikolog lazim disebut learning plateau (baca: pletou). Kejenuhan
belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak
mendatangkan hasil. Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa
seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada
kemajuan. Sehingga siswa yang bersangkutan menjadi pesimis terhadap
keberhasilan belajarnya, hingga tidak jarang menghukum diri sendiri atas
ketidak mampuannya tersebut. Kondisi inilah yang kemudian dikenali sebagai
gejala keletihan siswa.
Menurut Cross
(1974) dalam bukunya The Psychology of Learning, keletihan siswa dapat
dikategorikan menjadi tiga macam, yakni: 1) keletihan indera siswa; 2)
keletihan fisik siswa; 3) keletihan mental siswa. Khusus untuk penyebab
keletihan mental siswa, terdapat empat factor antara lain; 1) Karena kecemasan
siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri; 2)
Karena kecemasan siswa terhadap standar keberhasilan bidang studi tertentu yang
dianggap terlalu tinggi, terutama ketika siswa tersebut sedang merasa bosan
terhadap bidang studi tersebut; 3) Karena siswa berada ditengah situasi
kompetitif yang ketat dan menuntut kerja intelektual yang berat; 4) Karena
siswa mempercayai konsep kinerja akademik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai
belajarnya sendiri hanya berdasarkan ketentuan yang ia bikin sendiri
(self-imposed)
Robert, M.
Gagner (dalam Lamudji, 2005), menyebutkan bahwa untuk membuat pembelajaran
berpengaruh positif pada siswa dan tidak menimbulkan kejenuhan, dapat dilakukan
dengan pemberian motivasi. Membangkitkan motivasi dalam diri peserta didiknya
agar semakin aktif belajar, perlu dibangun guru melalui dua jenis motivasi,
yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. dorongan serta gairah yang
timbul dari dalam peserta didik itu sendiri, misalnya mendapat manfaat praktis
dari siswaan, mendapat penghargaan dari teman atau guru, hingga ingin mendapat
nilai yang baik sebagai bukti “mampu berbuat” merupakan bentuk dari motivasi
intrinsik. Sedangkan, dorongan yang mengacu kepada faktor-faktor luar yang
turut mendorong munculnya gairah belajar, seperti lingkungan social atau
kelompok, lingkungan fisik yang memberi suasana nyaman, tekanan, kompetisi,
termasuk fasilitas belajar yang memadai dan membangkitkan minat adalah bentuk
motivasi ekstrinsik
Siswa yang Berhasil
Sekolah
merupakan misi yang dilaksanakan untuk mencapai bermacam-macam keinginan
siswa atas pengetahuan dasar, wawasan, peningkatan kemampuan dan
pengetahuan yang mendalam (Perkin dalam Sopiatin, 2010). Sekolah yang
berhasil adalah sekolah yang memiliki visi dan misi, keyakinan dan nilai-nilai,
tujuan serta objek serta faktor kritis keberhasilan. Sedangkan kualitas sekolah
dapat dilihat dari kualitas input, kualitas proses, kualitas
outcome, dan adanya jaminan mutu terhadap pengguna. Sekolah bermutu merupakan
harapan dari semua pihak, sehingga tidak mengherankan jika setiap siswa
berlomba untuk dapat diterima disekolah tersebut. Sekolah yang mempunyai
kualitas pelayanan pendidikan yang baik dan dapat memberikan kepuasan terkait
dengan prestasi belajar siswa.
Seperti
halnya musisi, penari ataupun pemain golf, tentu tidak dapat berhasil apabila
mereka tidak mempraktekkannya, selain dari membaca ataupun mendengarkan
dasar-dasar dan teknik-teknik khusus dalam kelas. Agar mencapai
keberhasilan dan kesuksesan, siswa harus mampu mengatur dirinya dalam belajar
untuk memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada agar bisa menjadi siswa yang berhasil
dalam pendidikannya. Pengaturan diri dalam hal akademis ini disebut dengan academic self
management, suatu strategi pembelajaran yang digunakan oleh siswa
untuk mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajarannya (Dempo, 2004).
Sehingga menjadi tugas guru untuk membekali siswa dengan kemampuan
“self-management”, sebagai teknik memodifikasi perilaku untuk merubah perilaku
diri sendiri. Tidak hanya membelajarkan apa yang seharusnya dipelajari, tetapi
juga membelajarkan bagaimana belajar.
Mengajarkan
siswa untuk mampu mengawasi kinerjanya sendiri (self-monitoring) merupakan
langkah awal, membentuk siswa yang bertanggung jawab pada perilaku dan
sekaligus tahapan untuk menjadi “agents of change” (Hanson, 1996; Porter, 2002;
Rutherford, Quinn, & Mathur, 1996). Self-monitoring sendiri
didefinisikan sebagai praktek pengamatan dan pencatatan akademik dan perilaku
sosial seseorang (Hallahan & Kauffman, 2000; Rutherford, Quinn, &
Mathur, 1996; Vaughn, Bos, & Schumm, 2000). Apabila self
monitoring seseorang telah terbentuk, maka tahapan selanjutnya adalah
penguasaan self management untuk mengelola kemampuan tersebut. Self-management
bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa bagaimana mengatur proses
pembelajarannya atau mengefektifkan perilakunya. Kembali pada deskripsi
permasalahan diawal tulisan ini, maka menjadi penting bagi seorang guru untuk
merubah pola berfikirnya tentang siswa yang berhasil.
Siswa yang
berhasil bukanlah mereka yang mengetahui sesuatu lebih dari yang lain, tetapi
mereka yang memiliki strategi yang efektif dan efisien untuk mengakses dan
menggunakan pengetahuan, memotivasi diri sendiri dan dapat memonitor atau
mengubah perilaku ketika pembelajaran itu tidak terjadi. Sebab sistem
pendidikan formal tidak menjamin siswa untuk sukses. Kesuksesan bukan hanya
sekedar kemampuan akademis, tetapi juga kemampuan diri (personal skill) yang
baik. Siswa yang drop-out bukan karena dia memiliki kemampuan yang di
bawah rata-rata, tetapi karena dia tidak dapat mengatur dirinya, dalam hal
pendidikan. Oleh sebab itu sebagai catatan akhir tulisan ini, seorang guru
tidak boleh berputus asa untuk mencari “sejuta cara” agar siswanya menjadi
orang-orang yang berhasil dengan mandiri dalam belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar