Judul : SMART LOVE : Jurus jitu
mengelola cinta
Pengarang :
Kusmarwanti M. Idham
Halaman :
203
Penerbit :
Gema Insani Press
Tahun terbit :
2007
Cinta
itu fitrah. Bukan hanya untuk manusia namun juga untuk semua makhluk Allah.
Seperti cinta orang tua kepada anaknya ataupun sebaliknya. Namun bagaimana jika
cinta berobjek kepada seorang lelaki atau wanita. Objek
cinta yang satu ini sangatlah rumit yang sering kali membuat kita resah. Cinta semestinya membuat hidup kita berwarna, karena cinta
adalah penggerak dan ruh perjalanan manusia. Maka cinta yang membuat kita
sengsara, pasti karena kita tidak tepat meletakannya.
“Darimana
datangnya cinta? Dari mata turun kehati”. Cinta bermula dari melihat, lalu hati
kita bergetar karena tertarik melihatnya. Selain itu cinta juga tumbuh dari
sifat dan karakter seseorang yang membuat orang lain tertarik. Namun jangan
sampai karakter kita dibuat-buat agar seseorang tertarik, karena sesuatu yang
dibuat-buat tidak akan bertahan lama, sedangkan sesuatu yang tulus akan
bertahan selama Allah masih ada dalam genggaman hatinya. Cinta memang tidak
mematikan jasad, tetapi cinta bisa mematikan hati. Cinta bisa membuat kita
tidak berfikir jernih sehingga membuat kita bertindak yang tak terkendali.
Sesungguhnya Allah lah pemilik segala cinta, sumber cinta dan pemberi anugrah
cinta untuk manusia yang sanggup meletakan kekekalan cinta kepada hati manusia.
Bagaimana
bila kita sedang dilanda cinta? Sesungguhnya islam sangat memperhatikan fitrah
manusia, sehingga rasa cinta pun harus diungkapkan dengan lisanya. Tetapi tidak
kemudian menganggap cinta kepada kekasihnya adalah segala-galanya karena tidak
ada kecintaan manusia selain kepada tuhannya. Penting bagi kita untuk
mendeteksi keberadaan cinta dan mengukur kadarnya, agar cinta yang ada berada
pada lajurnya, karena mencintai pada jalur yang tidak sesuai itu merugikan.
Cinta menuntut pertanggung jawaban, keberanian,
komitmen dan wadah yang tepat yaitu pernikahan. Apabila
salah menempatkan cinta hanya akan membuat penyakit yaitu penyakit hati.
Kecintaan, kasih sayang, dan
ketertarikan terhadap sesuatu yang indah bukanlah sesuatu yang tercela.
Perasaan tersebut pun tak lantas dibuang atau malah dibunuh. Namun cinta yang
melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan
membelokan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang
sesungguhnya. Hal seperti inilah yang tercela.
Allah tidak pernah melepas hamba-Nya
dalam mengekspresikan cinta dalam hidupnya. Allah senantiasa memberikan cara-cara mengelola cinta
dalam kehidupanya dengan mengenal tingkatan-tingkatan cinta bagi manusia.
Tingkatan cinta tertinggi yaitu cinta kepada Allah, Rasul dan Jihad. Tingkatan
cinta menengah yaitu cinta kepada sesuatu yang halal karena diniatkan karena
Allah. Hikmah di balik cinta karena Allah adalah kelanggengan cinta. Semakin
kita mencintai Allah maka semakin besar pula kecintaan kita kepada ibu, bapak,
adik, kakak dan sebagainya. Tingkatan cinta terendah adalah cinta kepada
sesuatu yang diniatkan bukan karena Allah sehingga ia menjadi cinta yang haram.
Mencintai dengan landasan hawa nafsu atau dengan cara-cara yang bertentangan
dengan yang di tentukan oleh Allah. Setanlah yang berbicara dalam wilayah
terlarang ini. Bagaimana dengan mencintai lawan jenis, lalu pacaran, haramkah
cinta tersebut? Cinta tersebut haram apabila mereka memiliki sesuatu yang
melebihi rasa ketertarikan salah satunya memelihara keinginan dan angan angan
didalam hati tersebut atau dinamakan zina hati. Namun jika kita sudah terlanjur
tertarik dengan seseorang, maka berjuang membersihkan hati dengan sungguh-sungguh
akan menjadi jihad yang dicintai Allah.
Jika
kita jatuh cinta, maka ceritakan kondisi hati kita kepada teman. Karena cinta
sering menjadi tidak objektif. Kita perlu teman yang bisa menasehati agar tidak
terjerumus kedalam butanya cinta. Namun jangan ceritakan dengan teman lawan
jenis. Bukan berarti tidak boleh percaya pada lawan jenis. Karena
memberikan memberi kepercayaan pada lawan jenis sering ditafsirkan lain. Bisa jadi dengan menceritakkan beban kita, lalu
beranggapan kita telah menitipkan hati kepadanya. Bahaya bukan?
Solusi bagi orang yang ingin menjaga hati dari lawan
jenisnya, salah satunya adalah menghindari berduaan. Bagi orang pacaran, merasa
semua legal untuk dilakukan ketika berduaan misalnya bergandengan tangan karena
setanlah yang menjadi pihak ketiga. Dengan cara mengantikan posisi setan
sebagai pihak ketiga dengan manusia. Keberadaan orang ketiga diharapkan akan
timbul perasaan malu untuk mengendalikan pembicaraan dan semua aktivitas dalam forum
tersebut. Solusi lain adalah dengan memberi hijab (perisai) pada hati dan
fisik. Hijab hati berarti menjaga hati dari sesuatu yang akan mengotori dan
merusaknya dengan cara merapatkan pintu hati agar tidak mudah mengundang orang
yang akan membuatnya mabuk kepayang akan cinta untuk masuk.

aniiiis :D
BalasHapusmantap
BalasHapus